Segala sesuatu yang memiliki unsur gerak, bernafas dan memiliki jiwa bisa dikatakan memiliki unsur animasi. Bila dijabarkan lebih jauh, animasi bisa juga diartikan berhubungan dengan kehidupan. Dengan demikian pengertian animasi menjadi tak terbatas karena masalah kehidupan juga sangat tidak terbatas. Di Eropa, orang percaya bahwa masyarakat dahulu sudah mengenal animasi, yang dibuktikan dengan ditemukannya gambar-gambar berupa hewan-hewan buruan yang lari dengan kaki-kaki yang banyak di atas badan seekor bison atau babi hutan pada kurun waktu ±20.000 tahun yang lalu.
Embrio film animasi sendiri dikenal di daratan Eropa melalui penemuan Antanuasus Kircher yang membuat Magic Lantern pada tahun 1640. Alat yang berupa lentera dimana cahaya disorotkan pada gambar satu persatu (seperti pertunjukan slide). Pada tahun 1824 Peter Mark Roget meneliti tentang kemampuan mata kita menangkap gerak atau disebut sebagai persistence of vision. Kemudian Thaumatrope temuan John A. Paris pada tahun 1824, Joseph Plateau pada tahun 1826 dengan Phenakistoscope dan membuat Zootrope oleh Pierre Desvignes tahun 1860.
mengembangkan karakter tokoh dalam filmnya secara emosional. Kemudian ada pula Otto Messmer dan Pat Sullivan yang menciptakan karakter kartun Felix The Cat. Disusullah karakter emosional itu oleh Walt Disney dengan mengembangkan kehalusan bentuk DNA karakter yang diciptakannya melalui prinsip gambar animasi 24 frame per detik serta mengejar realita bentuk yang menyerupai manusia, meskipun karakter yang digunakan adalah benda mati.
Seiring berkembangnya teknik 24 frame per detik milik Disney itu kemudian muncullah studio-studio animasi seperti Hanna Barbera yang dianggap “mengkhianati” pakem animasi karena menggunakan jumlah gambar yang lebih terbatas jumlahnya (limited animation). Gaya animasi ini kemudian dikembangkan oleh para animator di Eropa dan Asia (Jepang terutama - dengan style manga/animenya), termasuk di dalamnya adalah Indonesia.
Perkembangan animasi tersebut juga termasuk berkembangnya keinginan untuk terus menggambar format-format baru. Tercatat Emilie Reynauld dari Perancis yang berlanjut ke Thomas Alva Edison dan Lumiere, adalah orang-orang yang mengawali pembuatan film dengan menggunakan listrik. Sebuah kamera merekam motion picture di atas film, yang semula berjumlah 12 gambar per detik kemudian dikembangkan menjadi 16 gambar per detik, hingga menjadi 24 gambar setiap detik demi membuat gerakan gambarnya menjadi halus. Sehingga bila dikalkulasikan semuanya adalah 1440 gambar tiap menitnya, atau sekitar 86.400 gambar per detiknya untuk durasi 1 jam.

 

Sementara itu untuk memanipulasi 24 gambar tersebut, beberapa animator dan kebanyakan dari limited animation animator membuatnya jadi 12 gambar dengan menggunakan gaya gerakan animasi “in two” yang memotret tiap gambarnya sebanyak 2 kali, sehingga akan tetap didapatkan 24 meski tidak sehalus 24 gambar aslinya (full animation). Dan gaya “in two” inilah yang turut dikembangkan studio-studio animasi di Indonesia.

Sebenarnya secara umum, masyarakat Indonesia sebenarnya sudah diperkenalkan pada film animasi global, sejak lama. Seni Wayang Kulit dan Wayang Golek sebenarnya merupakan cikal bakal daripada animasi itu sendiri. Namun seusai Indonesia merdeka, barulah terpetik keinginan untuk membuat film animasi full sendiri. Setelah mengalami berbagai perubahan, Pusat Film Negara (PFN) mengirim Pak Ooq (Dukut Hendronoto) ke studio Walt Disney di Amerika untuk belajar teknik pembuatan film animasi pada tahun 1950-an. Sepulang dari Amerika, Pak Ooq mulai membuat beberapa film animasi dengan teknik cel animation dengan durasi sepanjang 5 menit berjudul Si Doel Memilih (sebuah iklan propaganda Pemilu).

Nama lain yang juga masih konsisten menggeluti animasi dan kartun adalah Dwi Koendoro dengan karya fenomenalnya Panji Koming, Batu (film animasi dengan kamera 8mm) tahun 1974, Trondolo (1975) serta Beruang (bersama Pramono dengan teknik object animation) tahun 1976. Ada juga Suyudi (Pak Raden) dengan animasi berteknik handpuppet animation-nya berjudul Si Unyil. Setelah era tersebut, mulai bermunculanlah begitu banyak Production House yang menggeluti animasi di Indonesia, seperti yang pernah dikenal: Index Production House (serial Bima 2000 dan serial Sunan Kalijaga), Radian – Dina Mariana (serial non-fiksi Aikon), Red Rocket (studio animasi di Bandung dibawah pimpinan Poppy Palele), Bening (serial legenda rakyat), Urakurek (serial Mahabharata), Kasatmata (film layar lebar Homeland), MSVpictures (Jatayu dan Petualangan Abdan), Dreamlight World Media Jogjakarta (TVC World Cup 2010 Nusantara dan Serial DUFAN) dan masih banyak lagi.