Free Download Majalah Animasi Indonesia
  HOME HISTORY MAGAZINE DOWNLOAD
         
HISTORY
Animasi Dikenal Sejak Jaman Purba

Animasi adalah salah satu elemen multimedia yang memang sangat menarik. Sebab, ia mampu membuat sesuatu seolah-olah bergerak. Padahal animasi adalah rangkaian sejumlah gambar yang ditampilkan secara bergantian.

Animasi tidak hanya berguna untuk film saja. Dlam dunia situs web, animasi digunakan untuk memberikan sentuhan manis pada situs. Bahkan bagi dunia pendidikan, animasi juga dapat digunakan sebagai alat bantu untuk menjelaskan sesuatu agar orang yang diajar bisa lebih memahami maksud suatu konsep.
Secara umum, animasi merupakan maksud suatu kegiatan menghidupkan atau menggerakkan benda mati. Maksudnya, sebuah benda mati diberikan dorongan kekuatan, semangat, dan emosi untuk menjadi hidup dan bergerak atau hanya berkesan hidup.
Sebenarnya, sejak zaman dulu, manusia sudah mulai melakukan teknik animasi, yakni dengan mencoba & menganimasi gerak gambar binatang. Hal itu terungkap oleh penemuan para ahli purbakala di gua Lascaux di Spanyol Utara, yang sudah berumur 200 ribu tahun lebih. Di dinding gua itu, mereka menemukan gambar binatang dengan jumlah kaki delapan yang posisi badannya tengah bertumpuk-tumpuk. Diduga, dulu manusia purba yang hidup di gua itu telah membuat semacam gambar bergerak dengan cara menumpuk-numpuk gambar atau sketsa binatang.

Thaumatrope
Di belahan bumi yang lain, di Mesir, ada gambar para pegulat sedang bergumul yang susunannya berurutan pada dinding.
Para arkeolog memperkirakan dekorasi di dinding itu dibuat oleh orang-orang Mesir kuno pada tahun 2.000 sebelum masehi.
Sementara di Jepang, para arkeolog menemukan gulungan lukisan kuno yang memperlihatkan suatu alur cerita yang hidup, diperkirakan dibuat pada masa kerajaan Heian, yakni tahun 794-1192.
Sedangkan di Eropa,pada abad ke-19 sudah muncul mainan yang disebut thaumatrope. Mainan ini berbentuk lembaran cakram tebal yang di permukaannya terdapat gambar burung dalam sangkar. Kedua sisi kiri dan kanan cakram tersebut diikat dengan seutas tali.
Bila cakram tebal itu dipilin dengan tangan, maka gambar burung itu akan tampak bergerak. Dengan demikian, mainan ini bisa dikategorikan sebagai animasi klasik.
Dan di tahun 1982, Emile Reynauld mengembangkan mainan gambar animasi yang disebut praxinoscope. Mainan ini berupa rangkain ratusan gambar yang diputar dan diproyeksikan pada sebuah cermin sehingga tampak sebuah gerakan seperti layaknya film.Mainan ini selanjutnya dianggap sebagai cikal bakal proyektor pada bioskop.
Di Indonesia? Mungkin kita juga bisa mengklaim bahwa pad 4 hingga 3 juta tahun yang lalu dalam peradaban budaya Indonesia sudah ada lukisab animasi. Hal ini dibuktikan dengan lukisan-lukisan yang ada di gua Leang-leang (Sulawesi), beberapa gua di Kalimantan Timur, serta gua-gua yang masih murni tersimpan di alam Papua, maupun di Jawa.

Ekspresif & Tanpa Antagonis

Serial animasi Upin & Ipin sudah bukan barang baru lagi bagi kita. Bahkan yang bukan anak-anak akan terpaksa ikut menontonnya meski hanya selintas dan sesekali. Upin & Ipin memang sebuah aniomali.

Di tengah hubungan yang kerap panasa antar Indonesia dan Malaysia, si kembar ini ternyata mampu melakukan penetralisasi tak hanya sebagai sebuah tontonan namun juga hingga merembes ke faktor kultur. Lalu kita bertanya, apa sebenarnya yang membuat Upin & Ipin sedemikian buming dan menginternasionalkan dengan tayang lewat Disney Channel Asia?

Kualitas Animasi
Yang paling awal tentu, seperti kata anak-anak, gambarnya. Walau belum mampu mengahdirkan kualitas gambar sespektakuler animasi buatan Pixar atau Jepang lewat serial Final Fantasy misalnya, para kru animator di Les Copaque (rumah produksi Upin & Ipin) mempu menghadirkan suguhan animasi yang nyaris tanpa cacat dan luwes dalam semua gerakan tubuh tokoh-tokohnya.

Ekspresif
Seluruh karakter dalam serial ini, sejak si kembar Upin & Ipin, Ros, Ehsan, Jarjit, dan juga Salleh (si banci Sally) tampil dengan ekspresi-ekspresi wajah yang kuat karena natural. Mereka tak hanya seperti dalam film dan sinetron kita "disuruh" marah atau menangis menyayat-nyayat, namun juga heran, melongo bego, atau mangkel. Khas sekali ekspresi anak-anak.

Lucu
Tak akan berhasil sebuah tontonan untuk anka- anak yang formal, serius, dan terlalu menggurui penuh nasihat seperti pelajaran di sekolah. Dan Hj. Burhanuddin Radzi serta Hjh. Ainon Arif tidak membuatnya demikina.
Sebaliknya, Upin & Ipin sarat dengan kelucuan, kejahilan, dan daya imajinasi anak-anak kecil yang selalu bisa memancing tawa. Dan efek komedi seperti Rajoo yang bisa bicara dengan sapinya, Sapy, adalah sebuah terobosan yang jenius.

Antihero
Bosan menyaksikan karakter-karakter "lakon" pada cerita anak-anak Tanah air yang sederhana, baik hati, pintar, nurut orang tua, dan penuh kata-kata indah? Tidak demikian halnya dengan Upin & Ipin. Mereka bocah biasa saj yang penakut, sukar disuruh belajar, hobi main sampai lupa waktu,atau suka hujan-hujan.
Mereka tidak mengajari pemirsa, melainkan justru membuat penontonnya menemukan kesamaan diri masing-masing pad diri mereka. Dan dari situlah para penonton jatuh suka.

Suasana Desa
Upin & Ipin tidak tinggal di apartemen mewah di megapolitan kuala Lumpur, melainkan di kampung fiktif yang bernama Kampung Durian Runtuh. Suasana pedesaan yang tenang dan penuh aura persaudaraan ini membuat penonton menemukan ketenangan yang selama ini dicari.

"Susanti"
Di tengah kemarahan warga Indonesia terhadap Malaysia, satu karakter dari Indonesia justru ditampilkan dengan pesan moral berbalikan. Ya, ada karakter anak perempuan kecil bernama Susanti, yang datang dari Jakarta untuk pindah ke Malaysia bersama orang tuanya.
Nama ini jelas diambil dari maestro badminton era 1990-an, Susi Susanti. Dan Susanti tidak diposisikan sebagai si lemah, si jahat, atau simbol sesuatu yang harus dilawan. Ia bocah biasa saja, yang berlogat beda namun berkawan dengan semua warga setempat.

Tanpa Antagonis
Dalam berbagai cerita ank-anak di Indonesia, karakter jahat adalah perlu. Tokoh yang sadis, penuh kebencian, selalu marah, dan selalu juhat pada sang tokoh utama. Tak ada yang seperti ini dalam Upin & ipin. Kebaikan dan pesan moral diajarkan tidak dengan membenturkan putih melawan hitam.
Semua tokoh adalah sama. Mereka manusia biasa saja, yang punya kelebiahan sekaligus kekurangan. Ini membuat Upin & Ipin bisa diterima semua.

 


  Trend
  History
  Production House
  Focus
  TV Program
  Rating
  Book
  Tekno
  Serial
  Mini News
  Education
  Classic
  Movie