Free Download Majalah Animasi Indonesia
  HOME HISTORY MAGAZINE DOWNLOAD
         
CLASSIC
"Raden the Amir Brave Knight"

Tema-tema wayang, kian menjadi incaran para animator Indinesia untuk membangkitkan legenda-legenda besar di Indonesia.
Membangkitkan Tema Wayang

Wayang golek, khususnya wayang golek Menak, salah satu tema wayang yang menjadi incaran. Parjaya, seorang dalang yang melihat fenomena tersebut tampil dengan menggagas wayang golek Menak dalam bentuk film animasi yang menceritakan tentang penyebaran agama Islam serta penanaman budi pekerti pada anak.
Tamplan wayang semacam ini baru pertama kalinya dubuat. Dengan judul "Raden Amir the Brave Knight", diharapkan budaya Indonesia khususnya budaya Jawa dapat lebih dikenal masyarakat internasional.
Parjaya mengatakan, idenya membuat film animasi wayang golek Menak timbul karena keprihatinannya terhadap penanaman budi pekerti terhadap anak-anak di zaman sekarang. Menurutnya, tayangan yang ada sekarang kurang memberikan pelajaran budi pekerti saat anak berada di masa pertumbuhan. Hal itu membuat anak cenderung tidak memotivasi dirinya untuk mengenali budaya bangsanya.

Bahasa Jawa
Film animasi wayang golek Menak ini diiringi musik gamelan jawa, dan dialognya juga menggunakan Bahasa Jawa, namun dilengkapi dengan teks Bahasa Inggris. Untuk pertama kalinya film tersebut diperkenalkan pada masyarakat Yogyakarta di awal Juni 2010, kemudian baru diperkenalkan di Malaysia dan korea.
Rusmino Yulianto, koordinator produksi film animasi ini memaparkan bahwa pihaknya berupaya mencari sesuatu yang berbeda dengan yang lain, yakni mengkolaborasikan antara kebudayaan dan seni yang dikemas dalam karya film menarik. Menurutnya, perkembangan zaman selalu dibarengi perkembangan teknologi, termasuk di bidang seni.
Pembuatan film animasi ini memakan waktu satu bulan untuk tiap episodenya, dan saat ini baru satu episode yang dibuat. Tentu Parjaya dan Rusminto tidak akan berhenti

sampai di situ. Agar lebih dikenal luas oleh masyarakat, harus ada rencana jangka panjang untuk dapat lebih mengulas cerita penampilan wayang tersebut lebih dalam lagi.
Melihat sukses serial televisi animasi Little Khrisna dari india yang meskipun bukan cerita pewayangan Indonesia namun berhasil menarik masyarakat Indonesia untuk mengenal tokoh khrisna yang sebenarnya juag ada di tokoh pewayangan di Indonesia yang biasa disebut kresna, tampaknya akan menjadi sebuah peluang yang besar saat ini untuk mentransformasikan cerita pewayangan Indonesia sendiri dalam format animasi televisi serupa agar bisa kembali dilirik oleh generasi muda.
Sineas muda Indonesia pun mencoba menggagas tema-tema wayang ini ke dalam karyanya. Karena, tema wayang ternyata sedang menjadi perbincangan dunia. Salah satunya adalah, pengalaman Gotot Prakoso di Amerika.

Wayang Menjadi Kajian Dunia

Meski Unesco sudah menetapkan Wayang sebagai kesenian asli milik Indonesia, toh negeri sendiri tak segera bergegas mengaktualisasikannya.

Kini saatnya, animator kita mangangkat wayang ke kancah dunia. Gotot Prakoso tercenung sejenak ketika seorang mahasiswa di sebuah kampus film di Amerika Serikat bertanya tentang wayang. Ketua Asosiasi Film Animasi Indonesia (ASIFA) itu baru paham dengan pertanyaan lanjutan dari mahasiswa tadi. Kepada dia, mahasiswa itu mengaku penasaran karena seni wayang sering menjadi bahasan terdepan dalam mata kuliah sejarah film animasi dunia, terutama sejak United Nations on Educational, Scientific adn Cultural Organization (UNESCO) merestui wayang sebagai kesenian asli Indonesia.
Gotot, dosen sekaligus ketua jurusan animasi dalam Fakultas Perfilman di Institut Kesenian Jakarta, itu menjelaskan wayang memang kesenian asli Indonesia. Ada wauang kulit di Jawa Timur dan Jawa Tengah, wayang Golek di

Jawa Barat, dan beberapa kesenian wayang di Sumatra dan Kalimantan. "Jadi wayang itu memang diajarkan dan ada pada bab pertama buku-buku sejarah film animasi yang diajarkan pada seluruh kampus film dunia," ujarnya kepada merdeka.com, Jumat pekan lalu.
Bentuk wayang yang warna-warni dan bisa dilihat dari dua sisi menjadi sebuah desain animasi unik. Apalagi dalam setiap pementasan, kesenian khas Indonesia itu sudah mempertimbangkan tata letak lampu, iringan komposisi musik, dialog, bisa digerakkan menurut alur cerita, dan pementasannya bisa dinikmati dari dua sudut berbeda, deoan dan belakang.
Sebab itu, menukil dari buku karya John Halas hingga Walt Disney tentang pemahaman animasi, memang tak mengherankan jika wayang sebagai salah satu bagian sejarah perkembangan karya animasi. Saat manusia menafsir gerak kehidupan atau tentang 'hidup' yang diindikasikan dengan gerak dan memiliki makna serta satu jiwa, itu sesuai pengertian anima dalam bahasa Yunani, dan animate dalam bahasa Inggris, sebagai asal dari kata animasi.

Berkembang

Lalu bagaimana film animasi di Indonesia? Goto tersenyum, lalu berkata, animasi di indonesia terus bertumbuh seiring perkembangan teknologi. Dari segi pendidikan misalnya. Menurut dia, sekarang sudah ada ribuan sekolah membuka kelas multimedia dengan menyisipkan pelajaran mebuat animasi.
Cuma masalahnya pada pengembangan teknologi. Para animator muda Indonesia sebenarnya secara teknik sudah mampu membuat karya kelas dunia. Hanya saja, ketika karya itu disodorkan ke rumah produksi asing, ditolak karena karya mereka digarap memakai program bajakan. Padahal bagi luar negeri, penggarapan karya menggunakan program komputer menjadi salah satu syarat membuat karya animasi.
Menurut dia, pemerintah kurang begitu memperhatikan dunia perfilman, khusunya animasi. Suatu ketika, kata dia, menteri komunikasi dan informatika pernah mendorong penggunaan program linux, yang bisa mudah dikembangkan oleh penggunanya. Masalahnya ketika Bill Gates, pemilik Microsoft datang ke Indonesia. "Rencana itu tidak terdengar lagi. Padahal harga microsoft asli mahal. Itu memberatkan animator pemula," ujarnya.
Belum lagi masalih industri pertelevisian di tanah Air enggan membeli karya animator dalam negeri karena persoalan harga. Mereka lebih memilih film animasi asing dengan harga lebih murah, cukup Rp 5 juta per serial. Padahal untuk membuat film animasi lokal, harga yang disodorkan minimal Rp 6 juta per serial. Kalu pemerintah serius menggalakkan program cinta tanah Air, mestinya pemerintah bisa membantu animator itu masuk ke industri pertelevisian tanah Air.
"Caranat terserah. Bisa membuat regulasi atau bentuk apapun," ujarnya. Terlebih, merujuk syarat yang ditetapkan asosiasi film animasi dunia, Indonesia baru bisa disebut negara produsen animasi jika tiga tahun berturut-turut televisi lokal sanggup menayangkan film animasi buatan lokal. "Masalahnya, pemerintah mau nggak mendukung mereka berkarya di dalam negeri?"

  Trend
  History
  Production House
  Focus
  TV Program
  Rating
  Book
  Tekno
  Serial
  Mini News
  Education
  Classic
  Movie