Free Download Majalah Animasi Indonesia
  HOME HISTORY MAGAZINE DOWNLOAD
         
HISTORY
menggambarkan tokoh-tokoh semacam Mickey Mouse, Donald Duck, Scrooge McDuck (Paman Gober), atau Goofy. Juga muncul studio Hanna-Barbera dengan karakter-karakter seperti Yogi-Bear atau Quick Draw McGraw.
Pada era tersebut, film kartun masih dibuat dengan tangan dan digambar langsung pada lembar-lembar kertas. Satu adegan sederhana seperti Donal menggerakkan tangan bisa menghabiskan puluhan atau bahkan ratusan lembaran kertas untuk menvisualisasikannya. Belum lagi nanti menggambarkan gerakan mulut saat berbicara yang harus disinkronkan (lip sync) dengan dialog-dialog yang diucapkan pemeran suara sesuai dengan skenario cerita.

Dunia 3D

Lalu, diawali dengan era sesudah Disney & Pixar merilis Toy Story tahun 1995, dunia mulai beralih ke film-film animasi buatan komputer. Beauty and the Beast (1990) dan Aladdin (1993) menjadi film-film terakhir keluaran Disney yang masih menggunakan metode kartun tradisional 2-D. Sesudah itu, terutama masuk abad ke-21, semua studio besar hanya meluncurkan film-film animasi 3-D yang dikerjakan dengan komputer grafis.
Posisi animasi komputer menjadi kian nyata setelah Robert Zerneckis melalui Polar Express (2004) mengenalkan teknologi performance capture. Di sini, para talent melakukan sejumlah gerakan yang kemudian diterjemahkan komputer menjadi citra animasi. Maka pergerakan-pergerakan yang tercipta menjadi jauh lebih natural ketika "diambil" langsung dari pergerakan manusia.
Teknik ini kemudian dimatangkan lagi oleh James Cameron dalam Avatar (2009). Ditambah dengan kualitas citra komputer grafis yang makin tak bisa dibedakan dengan kualitas gambar-gambar fotografis, kita menjadi sukar untuk membedakan mana adegan live-action dengan mana yang buatan animasi di dalam film tersebut.
Pada akhirnya muncullah pertanyaan. Pada masa ketika telah mampu muncul gambar Tom Criuse berakting tanpa harus men-syuting Tom Cruise secara langsung, memungkinkan animasi akan menggusur live-action sehingga aktris dan aktor kehilangan mata pencaharian? Ini layak untuk digagas, karena efeknya bisa saja sangat kruisal.
Sebagai contoh, film animasi tak memerlukan stuntman alias pemeran pengganti. Berbagai adegan ganas bisa dibuat strategis apapun tanpa perlu membahayakan siapapun (ingat tragedi Brandon Lee dalam The Crow?). Selain itu, animasi juga memungkinkan pengambilan angle gambar dari "kamera" dengan sudut sesulit apapun karena memang tidak memerlukan kamera yang harus dibawa, diusung, diletakkan dengan tripod, atau diangkat memakai crane.
Pertanyaan ini mirip dengan ramalan akan tergusurnya media cetak oleh media online sepenuhnya karena berbagai pertimbangan strategis (jadwal edar, kertas, dan lain-lain). Sekarang memang belum, tapi bagaimana dengan satu atau dua dekade mendatang?
Dunia memang sedang berada dalam transisi menuju zaman baru.

  Trend
  History
  Production House
  Focus
  TV Program
  Rating
  Book
  Tekno
  Serial
  Mini News
  Education
  Classic
  Movie